Popular Posts

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Categories



Pipa Gas Kalimantan-Jawa Picu Penghematan

Rabu, 1 April 2015 | 19:49 WIB
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Petugas bersiap mengisi bahan bakar gas ke armada bajaj dari Mobile Refueling Unit (MRU) yang diresmikan penggunaannya oleh Dirut Perusahaan Gas Negara (PGN), Hendi Prio Santoso
KOMPAS.com - Bakal rampungnya proyek pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija) I pada kuartal ketiga 2015 bakal memicu penghematan hingga Rp 2 triliun per tahun bagi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Pembangunan infrastruktur gas bumi oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) melanjutkan pembangunan pada 2006 silam.

Catatan Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso hari ini menunjukkan usai Kalija I, PGN bakal membangun proyek Kalija II sepanjang 1.200 kilometer. Terealisasinya kedua proyek itu tepat waktu akan menjadi torehan prestasi tersendiri bagi PGN. Menurut Hendi, pada 13 Mei tahun ini, PGN genap berusia 50 tahun.

PGN, imbuh Hendi, akan meningkatkan terus pemerataan penggunaan gas bumi bagi masyarakat luas. Pada 2014 lalu, PGN sudah meluncurkan Gerakan PGN Sayang Ibu. Gerakan ini mematok target penambahan jaringan gas rumah tangga hingga satu juta sambungan.  “Rumah tangga selama ini merupakan pelanggan terbesar kami. Kami akan terus berupaya untuk meningkatkan jumlah pelanggan rumah tangga itu,” kata Hendi sembari menambahkan bahwa PGN juga melakukan pioneering untuk merambah daerah baru yang belum tersentuh sebelumnya.

Saat ini pipa gas bumi PGN terbentang di Sumatera dan Jawa sepanjang lebih dari 6.000 kilometer. Gas bumi yang mengalir melalui pipa itu masuk ke rumah tangga, usaha kecil menengah, industri, transportasi, dan pembangkit listrik. Menurut Hendi, catatan positif pembangunan infrastruktur PGN selama 2014 adalah mewujudkan energi non-fosil yang ramah lingkungan, murah dan terjamin pasokannya bagi industri serta sektor transportasi.

1 April Tarif Kereta Melonjak, Ini Penjelasan Bos PT KAI

Rabu, 1 April 2015 | 10:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Hari ini, Rabu (1/3/2015), tarif KA ekonomi jarak jauh yang selama ini mendapat subsidi PSO (Public Service Obligation) dari pemerintah mengalami kenaikan. Di beberapa rute, tarif KA bahkan naik sampai 100 persen. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI Edi Sukmoro memberikan penjelasan mengapa harga tiket KA melonjak.

"Secara prinsip, kenaikan tarif itu mengikuti PM17 (Peraturan Menteri Perhubungan Nomer 17 Tahun 2015) Tentang Tarif Angkutan Orang dengan Kereta Api Pelayanan Kelas Ekonomi untuk Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Publik," ujar Edi saat dihubungi Kompas.com, Jakarta, Rabu (1/3/2015).

Dia menjelaskan, setiap tahun KA Ekonomi jarak jauh sekali mendapatkan PSO dari pemerintah. Tahun 2015 ini, subsidi penumpang KA kelas ekonomi yang diberikan pemerintah sebesar Rp 1.5 triliun.

Awalnya, kata Edi, PSO tersebut diberikan sampai Juni 2015. Namun, pemerintah kata dia memutuskan PSO tersebut harus mencapai akhir tahun 2015. Dari jumlah Rp 1,5 triliun tersebut, sebesar Rp 115 miliar dialokasikan untuk KA jarak jauh, Rp 131miliar untuk KA jarak sedang, Rp 464 miliar untuk KA jarak dekat, Rp 44 miliar untuk KRD ekonomi, Rp 754 miliar untuk Commuter Line Jabodetabek, dan Rp 13 miliar untuk KA angkutan Lebaran 2015.

"Karena angka PSO yang diberikan harus sampai akhir tahun, semula hanya sampai dengan Juni 2015, maka tarif harus di sesuaikan," kata dia.

Selain karena dana PSO, Edi juga mengungkapkan kenaikan tarif KA yang melambung diakibatkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan fluktuasi harga bahan balam minyak (BBM).

"Sekarang kan sudah sampai Rp 13.000 per dollar AS, jadi kurs dolar sangat memengaruhi. Karena sebagian besar dari sparepartkita juga mengandung kurs dollar," ucap dia.

Beberapa kereta ekonomi yang mengalami kenaikan seperti Kuto Jaya Utara jurusan Kutoarjo-Pasar senen, yang awalnya Rp 40.000 menjadi Rp 80.000, sedangkan KA Matarmaja Jurusan Malang-Pasar Senen dari Rp 65.000 menjadi Rp 115.000.
Tag : , ,

Hak Angket untuk Jatuhkan Ahok, Cermin DPRD Tak Peduli Rakyat

Jumat, 27 Maret 2015 | 16:17 WIB
Jessi CarinaKetua Tim Hak Angket Muhammad Sangaji, pakar komunikas politik Emrus Sihombing, dan Wakil Ketua Tim Hak Angket Inggard Sangaji.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi, menyayangkan sikap DPRD DKI Jakarta yang menggunakan hak angket karena menganggap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melanggar etika. Kristiadi menilai, sikap DPRD sangat keliru dan bertentangan dengan harapan publik.
"Menurut saya sudah berlebihan (pengajuan hak angket). Bobot ketidaksantunan Ahok dengan anggaran siluman yang akan diselundupkan (DPRD) itu tidak sebanding," kata Kristiadi saat dihubungi, Jumat (27/3/2015).
Kristiadi menduga pengajuan angket merupakan cara DPRD untuk memenuhi hasrat berkuasa, yakni dengan membendung daya kritis Ahok dalam menyusun anggaran secara transparan, tepat jumlah, dan tepat sasaran. Sikap DPRD itu, kata Kristiadi, merupakan bentuk dianutnya politik menang-kalah oleh DPRD. DPRD semestinya bersinergi dengan Ahok dalam mewujudkan program-program yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
"Iklimnya sekarang diwarnai dengan amukan, hasrat berkuasa. Orientasinya hanya kekuasaan, jadi tidak mementingkan rakyat," ujarnya.
Proses penyelidikan oleh tim angket DPRD DKI terhadap Ahok semakin mendekati babak akhir. Tim angket telah meminta pertimbangan saksi ahli di bidang komunikasi politik, hukum tata negara, dan lainnya. Pemanggilan para saksi ahli akan menutup proses angket yang telah berjalan sejak awal Maret. Nantinya, keterangan dari para pakar akan melengkapi para saksi yang telah dipanggil.
Setelah itu, hasil angket akan diserahkan ke pimpinan DPRD untuk kemudian dibahas dalam rapat paripurna. Sidang paripurna kemungkinan besar akan dilangsungkan pada Rabu (1/4/2015) pekan depan.

DPRD Tuding Balik: APBD Ahok yang Siluman!


DPRD Tuding Balik: APBD Ahok yang Siluman!TEMPO.CO Jakarta: Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menuding Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama melanggar hukum karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah versi e-budgeting. Sebab, APBD versi Ahok--sapaan akrab Basuki--dianggap tak melewati pembahasan dengan dewan.
"APBD Ahok itu siluman!" kata Ketua DPRD Prasetyo Edi Marsudi, Kamis 5 Maret 2015.
Edi menyatakan APBD 2105 yang sah adalah hasil paripurna. "APBD versi Ahok itu ilegal," katanya. Ia mengaku masih belum bisa menerima adanya dua versi APBD 2015.  
Edi merasa kewenangan dewan disunat Ahok melalui e-budgeting. "Saat dewan bekerja tiba-tiba datang APBD 2015 versi Ahok dari e-budgeting," kata dia. Terlebih, kata dia, dewan hanya menerima surat bahwa APBD e-budgeting sudah diselaraskan dengan APBD 2015 yang sudah diketok palu.
Muhammad Taufik, Wakil Ketua DPRD dari Partai Gerindra, menganggap e-budgeting bukan produk hukum. "Itu bukan produk undang-undang," kata dia. Bahkan Taufik menuding Ahok melakukan pemalsuan.
Mediasi yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri pada Kamis 5 Maret 2015 mengalami deadlock. Pertemuan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan DPRD DKI untuk menyelesaikan kisruh APBD dihentikan pukul 11.55 dengan menemui jalan buntu. 
Ahok berang karena dewan tetap menghendaki anggaran versi wakil rakyat yang disahkan. Sebelumnya, dalam anggaran itu, Ahok menduga ada anggaran siluman senilai Rp 12,1 triliun yang tak masuk dalam pembahasan bersama.

- Copyright © Kerah Putih - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -